Memahami Remaja dengan Ilmu, Membimbingnya dengan Iman
🧠 PERKEMBANGAN OTAK & EMOSI REMAJA
Memahami Remaja dengan Ilmu, Membimbingnya dengan Iman
Muqaddimah
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Amma ba‘du.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Masa remaja adalah masa yang sangat penting. Ia bukan lagi anak-anak, tetapi belum sepenuhnya matang sebagai orang dewasa. Pada masa inilah terjadi perubahan besar: tubuh berubah, hormon berubah, emosi berubah, cara berpikir berkembang, hubungan sosial berubah, dan pencarian identitas semakin kuat.
Karena itu, memahami remaja tidak cukup hanya dengan mengatakan:
“Anak sekarang susah diatur.”
Bisa jadi bukan anaknya yang semata-mata bermasalah, tetapi kita belum memahami apa yang sedang terjadi dalam dirinya.
Namun Islam mengajarkan kita bahwa memahami kondisi manusia tidak berarti membiarkan kesalahan. Kita perlu memahami dengan ilmu, membimbing dengan hikmah, dan mengarahkan dengan iman.
1. PERUBAHAN HORMON DAN MOOD SWING
Salah satu ciri masa pubertas adalah perubahan hormonal yang sangat besar.
Akibatnya, seorang remaja terkadang:
- pagi ceria, sore murung;
- sebentar bersemangat, kemudian kehilangan motivasi;
- mudah tersinggung;
- menangis karena sesuatu yang bagi orang dewasa tampak sepele;
- mudah marah;
- ingin menyendiri;
- sangat membutuhkan perhatian;
- atau tiba-tiba merasa tidak dipahami siapa pun.
Apakah ini berarti anak kurang ajar?
Tidak selalu.
Perubahan emosi merupakan bagian dari proses perkembangan. Tetapi Islam juga mengajarkan bahwa emosi harus dikendalikan, bukan dijadikan alasan untuk berbuat sesuka hati.
Allah berfirman:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“...orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Āli ‘Imrān: 134)
Jadi ada dua hal yang harus kita ajarkan:
Pertama: “Nak, perasaanmu valid. Ayah/Ibu/Guru memahami kamu sedang marah atau sedih.”
Kedua: “Tetapi tidak semua tindakan yang muncul dari kemarahan boleh dilakukan.”
Inilah pendidikan emosi dalam perspektif Islam.
2. REMAJA MEMBUTUHKAN VALIDASI
Remaja mulai bertanya:
“Aku ini siapa?”
“Aku sebenarnya punya kelebihan apa?”
“Kenapa aku berbeda dengan teman-temanku?”
“Apakah aku diterima?”
“Apakah aku berharga?”
Ini adalah bagian dari pencarian identitas.
Psikolog perkembangan Erik H. Erikson menjelaskan masa remaja sebagai fase identity versus role confusion—masa ketika seseorang berusaha membangun identitas dirinya.
Karena itu, jangan sampai rumah dan sekolah hanya menjadi tempat remaja mendengar:
“Kamu salah.”
“Kamu malas.”
“Kamu nakal.”
“Kamu tidak bisa apa-apa.”
Kalau setiap hari anak mendengar label negatif, lama-lama label tersebut dapat menjadi bagian dari cara ia memandang dirinya.
Islam memberikan prinsip yang sangat indah.
Allah berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.”
(QS. Al-Isrā’: 70)
Perhatikan:
Allah menyebut manusia sebagai makhluk yang dimuliakan.
Maka seorang guru jangan hanya melihat:
“Apa kesalahan anak ini?”
Tetapi juga bertanya:
“Potensi apa yang Allah titipkan pada anak ini?”
3. VALIDASI BUKAN BERARTI MEMBENARKAN SEMUA PERILAKU
Ini sangat penting.
Ada perbedaan antara:
Validasi perasaan
“Ibu tahu kamu kecewa.”
dengan
Membenarkan perilaku
“Karena kamu kecewa, tidak apa-apa kamu membentak Ibu.”
Yang pertama benar.
Yang kedua tidak.
Rasulullah ﷺ mengajarkan pendidikan yang sangat lembut. Dalam banyak kesempatan beliau tidak langsung menghukum orang yang melakukan kesalahan, tetapi membimbing dan mengarahkan.
Allah berfirman kepada Nabi ﷺ:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
“Maka berkat rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.”
(QS. Āli ‘Imrān: 159)
Ini merupakan prinsip penting dalam pendidikan:
Kelembutan membuka hati sebelum nasihat masuk ke dalam pikiran.
4. OTAK REMAJA BELUM SELESAI MATANG
Ilmu neuroscience modern menunjukkan bahwa perkembangan otak berlangsung sampai masa dewasa muda.
Salah satu bagian yang sangat penting adalah prefrontal cortex, yang berperan dalam:
- perencanaan;
- pengendalian impuls;
- mempertimbangkan konsekuensi;
- pengambilan keputusan;
- pengaturan perilaku;
- pengendalian emosi.
Sementara sistem yang berkaitan dengan reward, emosi, dan pencarian sensasi berkembang dengan dinamika yang berbeda.
Karena itu, remaja terkadang mampu memahami:
“Ini sebenarnya berbahaya.”
Tetapi tetap melakukannya.
Bukan berarti mereka tidak memiliki akal.
Namun kemampuan mengendalikan dorongan masih berkembang.
5. MAKA ORANG DEWASA PERLU MENJADI “REM”
Ini sebuah analogi yang mudah dipahami.
Remaja mempunyai:
🚗 mesin yang kuat: energi, keberanian, kreativitas, rasa ingin tahu.
Tetapi:
🛑 sistem pengereman masih berkembang: kontrol diri, pertimbangan risiko, kesabaran, dan kemampuan melihat konsekuensi jangka panjang.
Maka tugas orang tua dan guru bukan hanya berkata:
“Jangan!”
Tetapi membantu anak belajar:
“Mengapa jangan?”
“Apa akibatnya?”
“Bagaimana cara mengambil keputusan yang lebih baik?”
“Kalau kamu menghadapi situasi seperti ini lagi, apa yang akan kamu lakukan?”
Dengan demikian kita tidak hanya menjadi polisi bagi anak, tetapi menjadi pelatih pengendalian dirinya.
6. ISLAM SUDAH MENGAJARKAN PENGENDALIAN DIRI
Islam sangat menekankan mujāhadatun nafs—perjuangan mengendalikan diri.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat. Orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)
Perhatikan definisi kekuatan menurut Rasulullah ﷺ.
Bukan:
- paling keras;
- paling berani berkelahi;
- paling kuat membalas.
Tetapi:
Mampu mengendalikan diri ketika emosi.
Inilah emotional regulation yang diajarkan Nabi ﷺ jauh sebelum istilah psikologi modern populer.
7. REMAJA MEMBUTUHKAN BATASAN
Memahami perkembangan otak bukan berarti:
“Biarkan saja, namanya juga remaja.”
Tidak.
Remaja justru membutuhkan batasan yang jelas.
Mereka membutuhkan:
- aturan;
- konsekuensi;
- rutinitas;
- keteladanan;
- pengawasan;
- komunikasi;
- dan kasih sayang.
Allah berfirman:
يٰٓأَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا قُوْٓا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Taḥrīm: 6)
Ayat ini menunjukkan bahwa keluarga bukan hanya tempat memberi makan dan memenuhi kebutuhan materi.
Tetapi juga tempat menyelamatkan akidah, akhlak, dan kehidupan anak.
8. RASULULLAH ﷺ MENGAJARKAN PENDIDIKAN BERTAHAP
Dalam hadis yang sangat terkenal, Rasulullah ﷺ bersabda:
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan salat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan berikan tindakan disiplin ketika mereka berusia sepuluh tahun apabila meninggalkannya, serta pisahkan tempat tidur mereka.”
(HR. Abū Dāwūd)
Hadis ini menunjukkan bahwa pendidikan memiliki tahapan perkembangan.
Anak tidak diperlakukan sama pada setiap usia.
Ada:
fase pengenalan → pembiasaan → pendisiplinan → tanggung jawab.
Maka pendidikan remaja juga tidak bisa menggunakan metode yang sama persis dengan anak SD.
9. JANGAN PERMALUKAN REMAJA DI DEPAN TEMAN-TEMANNYA
Salah satu kebutuhan psikologis remaja adalah harga diri dan penerimaan sosial.
Karena itu, mempermalukan mereka di depan teman-temannya sering kali justru membuat mereka:
- defensif;
- melawan;
- kehilangan kepercayaan;
- menyimpan dendam;
- atau semakin menjauh dari orang tua/guru.
Rasulullah ﷺ dalam mendidik umat sering menggunakan cara yang menjaga kehormatan seseorang.
Salah satu contoh terkenal adalah ketika seorang pemuda datang kepada Rasulullah ﷺ dan meminta izin melakukan zina. Nabi ﷺ tidak mempermalukannya di hadapan orang-orang.
Beliau mengajaknya berdialog:
“Apakah engkau rela jika hal itu dilakukan terhadap ibumu?”
Pemuda itu menjawab tidak.
Kemudian Nabi ﷺ mengarahkannya dengan pertanyaan yang sama tentang anak perempuan, saudara perempuan, dan kerabatnya.
Kemudian Nabi ﷺ mendoakannya.
(HR. Aḥmad; kisah ini memiliki sejumlah jalur riwayat dan dinilai hasan oleh sejumlah ulama)
Pelajarannya:
Kesalahan remaja tidak selalu diselesaikan dengan mempermalukan pelakunya.
Kadang anak membutuhkan seseorang yang mampu membantunya berpikir dari sudut pandang yang benar.
10. REMAJA MEMBUTUHKAN KETELADANAN, BUKAN HANYA CERAMAH
Albert Bandura, melalui teori Social Learning Theory, menjelaskan pentingnya pembelajaran melalui pengamatan dan peniruan.
Anak dan remaja banyak belajar dari apa yang mereka lihat.
Maka jangan hanya berkata:
“Nak, jangan main HP terus!”
Tetapi orang tua sendiri terus memegang HP.
Jangan berkata:
“Jangan mudah marah!”
Tetapi setiap kesalahan anak dibalas dengan bentakan.
Jangan berkata:
“Rajin membaca Al-Qur'an!”
Tetapi anak tidak pernah melihat orang tuanya membaca Al-Qur'an.
Rasulullah ﷺ adalah contoh terbaik.
Allah berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.”
(QS. Al-Aḥzāb: 21)
11. REMAJA MEMBUTUHKAN HUBUNGAN, BUKAN HANYA INSTRUKSI
Kadang orang tua bertanya:
“Kenapa anak saya kalau dinasihati tidak mau mendengar?”
Mungkin masalahnya bukan pada isi nasihat, tetapi pada hubungan sebelum nasihat.
Anak yang merasa:
“Ayahku memahami aku.”
akan lebih mudah menerima:
“Ayahku menasihati aku.”
Maka sebelum mengoreksi:
hubungkan hati.
Sebelum menuntut:
bangun kepercayaan.
Sebelum memberi hukuman:
pastikan anak memahami kesalahannya.
12. KISAH LUQMAN: MODEL PENDIDIKAN REMAJA DALAM AL-QUR'AN
Salah satu model pendidikan yang sangat indah terdapat dalam nasihat Luqman kepada anaknya.
Allah berfirman:
يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
(QS. Luqmān: 13)
Perhatikan panggilannya:
يَا بُنَيَّ — Yā bunayya
“Wahai anakku tersayang.”
Bukan:
“Hei anak!”
Ada kasih sayang sebelum nasihat.
Kemudian Luqman mengajarkan:
- Tauhid — ayat 13
- Birrul walidain — ayat 14
- Kesadaran bahwa Allah mengetahui segala sesuatu — ayat 16
- Salat — ayat 17
- Amar ma‘ruf nahi munkar — ayat 17
- Kesabaran — ayat 17
- Akhlak — ayat 18–19
Ini sangat luar biasa.
Pendidikan anak tidak hanya akademik.
Ia meliputi:
akidah → ibadah → karakter → pengendalian diri → hubungan sosial.
13. JANGAN HANYA BERTANYA: “NILAI KAMU BERAPA?”
Sesekali tanyakan:
“Hari ini kamu bahagia atau tidak?”
“Apa yang paling membuat kamu khawatir?”
“Ada masalah dengan teman?”
“Apa yang sedang kamu pikirkan?”
“Apa yang ingin kamu capai?”
“Apa yang membuatmu merasa tidak percaya diri?”
“Apa yang bisa Ayah/Ibu/Guru bantu?”
Pertanyaan seperti ini membuka pintu hati.
Kemudian baru kita arahkan kepada:
“Apa yang Allah inginkan dari kita dalam keadaan seperti ini?”
Inilah integrasi psikologi dan tarbiyah Islamiyah.
14. JANGAN MELABELI ANAK
Hindari:
❌ “Kamu memang pemalas.”
❌ “Kamu anak nakal.”
❌ “Kamu tidak punya masa depan.”
❌ “Kakakmu saja bisa, kenapa kamu tidak?”
Lebih baik:
✅ “Perilaku ini perlu diperbaiki.”
✅ “Ayah tahu kamu sebenarnya mampu.”
✅ “Mari kita cari penyebabnya.”
✅ “Apa yang bisa kita lakukan agar besok lebih baik?”
Bedakan antara:
“Kamu buruk.”
dengan:
“Perbuatanmu perlu diperbaiki.”
Yang dikoreksi adalah perilakunya, bukan harga dirinya.
15. REMAJA BUKAN PROYEK ORANG TUA
Ini pesan penting.
Anak bukan tempat orang tua mewujudkan semua ambisi:
“Kamu harus seperti ini.”
“Kamu harus menjadi itu.”
“Kamu harus mengikuti keinginan Ayah.”
Tugas kita adalah membantu mereka menemukan jalan kebaikan sesuai potensi yang Allah berikan.
Allah berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)
Setiap anak memiliki keunikan.
Ada yang kuat di akademik.
Ada yang kuat di olahraga.
Ada yang kuat di komunikasi.
Ada yang kreatif.
Ada yang memiliki kepemimpinan.
Ada yang sangat peka terhadap orang lain.
Tugas pendidik adalah menggali potensi dan mengarahkannya kepada kebaikan.
16. RUMUS PRAKTIS MENDAMPINGI REMAJA
Saya sarankan menggunakan rumus sederhana:
❤️ PAHAMI → 🗣️ DENGARKAN → 🧭 ARAHKAN → 🛑 BATASI → 🤲 DOAKAN
1. PAHAMI
Cari tahu apa yang sedang terjadi.
2. DENGARKAN
Jangan langsung memotong pembicaraan.
3. ARAHKAN
Bantu anak menemukan solusi yang benar.
4. BATASI
Tetapkan aturan dan konsekuensi yang jelas.
5. DOAKAN
Karena hidayah adalah milik Allah.
Allah berfirman kepada Nabi ﷺ:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. Al-Qaṣaṣ: 56)
17. PESAN UNTUK PARA GURU
Guru jangan hanya menjadi:
pengajar materi.
Tetapi jadilah:
- pendengar;
- pembimbing;
- teladan;
- penjaga;
- motivator;
- dan orang dewasa yang dipercaya.
Kadang seorang siswa tidak membutuhkan ceramah panjang.
Ia hanya membutuhkan seorang guru yang berkata:
“Bapak percaya kamu masih bisa berubah.”
Kalimat sederhana itu mungkin menjadi titik balik kehidupan seorang anak.
18. PESAN UNTUK ORANG TUA
Jangan sampai ketika anak kecil kita berkata:
“Ayah, lihat aku!”
Kita menjawab:
“Nanti.”
Ketika remaja, dia berhenti berkata:
“Ayah, lihat aku.”
Lalu kita bertanya:
“Kenapa sekarang kamu tidak pernah cerita?”
Bisa jadi bukan dia yang berubah tiba-tiba.
Kita yang terlalu lama tidak hadir ketika ia membutuhkan kita.
Karena itu, bangun kembali hubungan:
- makan bersama;
- shalat berjamaah;
- membaca Al-Qur'an bersama;
- ngobrol tanpa menghakimi;
- olahraga bersama;
- sesekali bercanda;
- dan berdoa bersama.
🌱 PENUTUP: REMAJA ADALAH AMANAH
Hadirin yang dirahmati Allah,
Remaja bukan sekadar anak yang sedang “sulit diatur”.
Mereka sedang berada dalam perjalanan:
dari anak-anak menuju kedewasaan.
Otaknya sedang berkembang.
Emosinya sedang belajar stabil.
Identitasnya sedang dibangun.
Dan di tengah semua itu, mereka membutuhkan orang dewasa yang berkata:
“Aku memahami kamu.”
“Aku tidak membenarkan kesalahanmu, tetapi aku tidak akan meninggalkanmu.”
“Mari kita belajar bersama.”
“Allah masih membuka pintu taubat dan perubahan.”
Maka mari kita mendidik generasi muda bukan dengan kemarahan semata, tetapi dengan:
ILMU + KASIH SAYANG + KETELADANAN + BATASAN + DOA.
Karena boleh jadi anak yang hari ini kita anggap paling sulit,
justru suatu hari menjadi:
imam, ulama, guru, pemimpin, dai, atau manusia saleh yang membawa banyak orang kepada kebaikan.
Yang kita perlukan bukan mematahkan mereka.
Tetapi membantu mereka tumbuh.
📚 Pendapat Para Ahli dan Rujukan
1. Erik H. Erikson
Buku: Identity: Youth and Crisis
Erikson menjelaskan masa remaja sebagai fase penting dalam pembentukan identitas, khususnya konflik identity vs. role confusion.
Relevansi: menjelaskan mengapa remaja sering bertanya tentang siapa dirinya, bagaimana ia dipandang orang lain, dan masa depannya.
2. Laurence Steinberg
Buku: Adolescence
Steinberg membahas perkembangan biologis, kognitif, emosional, dan sosial pada masa remaja.
Relevansi: membantu memahami bahwa perubahan perilaku remaja berkaitan dengan proses perkembangan, bukan sekadar masalah “kemauan”.
3. Daniel J. Siegel
Buku: Brainstorm: The Power and Purpose of the Teenage Brain
Siegel menjelaskan bahwa masa remaja merupakan periode penting perkembangan otak, terutama berkaitan dengan perubahan konektivitas otak, emosi, pencarian pengalaman, dan perkembangan identitas.
Relevansi: remaja perlu diarahkan, bukan sekadar dimarahi.
4. Sarah-Jayne Blakemore
Buku: Inventing Ourselves: The Secret Life of the Teenage Brain
Blakemore banyak membahas perkembangan otak sosial pada masa remaja.
Relevansi: membantu menjelaskan mengapa penerimaan teman sebaya, penilaian sosial, dan hubungan dengan kelompok menjadi sangat penting bagi remaja.
5. Albert Bandura
Buku: Social Learning Theory
Bandura menekankan bahwa manusia belajar melalui observasi dan peniruan.
Relevansi: anak dan remaja banyak belajar dari apa yang dilakukan orang dewasa, bukan hanya dari apa yang mereka katakan.
📖 Rujukan Al-Qur'an dan Sunnah
Al-Qur'an
- QS. Āli ‘Imrān: 134 — pengendalian amarah.
- QS. Āli ‘Imrān: 159 — kelembutan dalam mendidik.
- QS. Al-Isrā’: 70 — kemuliaan manusia.
- QS. Luqmān: 13–19 — model pendidikan anak.
- QS. At-Taḥrīm: 6 — tanggung jawab menjaga keluarga.
- QS. Al-Aḥzāb: 21 — keteladanan Rasulullah ﷺ.
- QS. Al-Qaṣaṣ: 56 — hidayah berada di tangan Allah.
- QS. Al-Baqarah: 286 — Allah mengetahui kemampuan hamba-Nya.
Hadis
- Ṣaḥīḥ al-Bukhārī & Ṣaḥīḥ Muslim — kekuatan adalah kemampuan mengendalikan diri ketika marah.
- Sunan Abī Dāwūd — pendidikan salat secara bertahap sejak usia anak.
- Musnad Aḥmad — dialog Rasulullah ﷺ dengan seorang pemuda mengenai zina.
Kitab Ulama
Untuk memperkaya perspektif tarbiyah Islamiyah, dapat merujuk antara lain:
-
Ibn Qayyim al-Jawziyyah — Tuḥfat al-Mawdūd bi Aḥkām al-Mawlūd
Membahas pendidikan dan tanggung jawab terhadap anak. -
Ibn al-Qayyim — Tarbiyat al-Awlād dalam berbagai pembahasan beliau tentang pendidikan jiwa dan anak.
-
Al-Ghazālī — Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, khususnya pembahasan tentang pendidikan jiwa, akhlak, dan pembiasaan.
-
Ibn Kathīr — Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm
Untuk penjelasan ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan pendidikan, akhlak, dan keluarga. -
Al-Sa‘dī — Taysīr al-Karīm al-Raḥmān
Rujukan tafsir yang ringkas dan kuat untuk memahami prinsip pendidikan dari ayat-ayat Al-Qur'an.
🌟 Kalimat Kunci untuk Disampaikan
“Remaja tidak membutuhkan orang dewasa yang selalu membenarkan mereka. Mereka membutuhkan orang dewasa yang memahami perasaan mereka, membatasi kesalahan mereka, memberi teladan, dan terus percaya bahwa mereka mampu menjadi lebih baik.”
Dan dalam perspektif Islam:
“Kita tidak hanya bertugas membesarkan anak agar sukses di dunia, tetapi mendidik mereka agar mengenal Allah, mencintai kebaikan, mampu mengendalikan dirinya, dan selamat di akhirat.”
Post a Comment